Liputanperistiwa.com Pekanbaru — Mengisi kemerdekaan tidak selalu harus dilakukan dengan sesuatu yang besar. Kepedulian terhadap sesama, membantu masyarakat yang membutuhkan, memperjuangkan pendidikan dan hadir ketika warga menghadapi kesulitan, merupakan bentuk nyata bagaimana kemerdekaan diisi dengan tindakan.
Semangat itulah yang terus dibangun Srikandi DPC GRIB Jaya Pekanbaru. Meski relatif baru hadir di Kota Pekanbaru, organisasi perempuan di bawah DPC GRIB Jaya Pekanbaru tersebut mulai menunjukkan kiprahnya melalui berbagai kegiatan sosial dan kepedulian terhadap dunia pendidikan.
Bagi Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru, perempuan tidak hanya memiliki peran di dalam keluarga, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam kehidupan sosial dan menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Ketua Srikandi DPC GRIB Jaya Pekanbaru, Nurhayati, mengatakan semangat perempuan dalam mengisi kemerdekaan harus diwujudkan melalui kepedulian dan keberanian untuk turun langsung membantu masyarakat.
Menurutnya, kemerdekaan akan semakin bermakna ketika masyarakat dapat merasakan manfaat dari kepedulian dan gotong royong.
Salah satu bentuk nyata kiprah tersebut terlihat ketika Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru mendampingi keluarga Rheisa Dwi Hafizah, bocah berusia 14 tahun yang tengah berjuang menghadapi Dandy-Walker syndrome.
Rheisa saat itu menjalani perawatan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau setelah sebelumnya mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Prima Pekanbaru.
Di balik perjuangan Rheisa melawan penyakit, terdapat perjuangan berat kedua orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya pengobatan. Dalam kondisi ekonomi terbatas, orang tua Rheisa bahkan harus berutang demi memenuhi kebutuhan pengobatan sang anak.
Kondisi semakin memprihatinkan ketika kursi roda yang selama ini digunakan Rheisa untuk membantu aktivitas dan menjalani pengobatan disita karena keluarga tidak mampu memenuhi kewajiban utangnya.
Kisah tersebut kemudian menggerakkan hati Nurhayati bersama jajaran Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru untuk turun langsung mendampingi keluarga Rheisa.
Tidak hanya membantu proses mendapatkan pelayanan kesehatan melalui program UHC, Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru juga memberikan santunan dan mendampingi keluarga Rheisa mengurus bantuan ke BAZNAS Provinsi Riau.
“Saya benar-benar tertegun. Hati saya sedih mendengar perjuangan mereka. Yang paling membuat saya terpukul adalah ketika mengetahui kursi roda Rheisa sampai ditarik oleh tempat mereka berutang karena orang tuanya tidak mampu membayar cicilan. Padahal kursi roda itu sangat dibutuhkan untuk membawa Rheisa menjalani pengobatan,” ujar Nurhayati.
Menurut Nurhayati, apa yang dilakukan Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru bukan semata-mata soal bantuan materi, tetapi bagaimana perempuan dapat hadir dan memberikan kekuatan kepada keluarga yang sedang menghadapi ujian.
“Kami melihat langsung kondisi keluarga Rheisa. Dari situlah kami tergerak untuk membantu semampu kami. Ini bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi bentuk kepedulian kepada sesama,” katanya.
Perempuan dan Semangat Mengisi Kemerdekaan
Memasuki momentum HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Nurhayati menilai semangat kemerdekaan harus menjadi energi bagi perempuan untuk semakin berani mengambil peran.
Perempuan, kata dia, memiliki kekuatan besar dalam membangun kepedulian sosial karena memiliki kepekaan terhadap persoalan keluarga, anak-anak, pendidikan maupun persoalan kemanusiaan di lingkungan sekitarnya.
“Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan. Bagi kami, perempuan juga harus ikut mengisi kemerdekaan dengan bergerak, peduli dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Nurhayati.
Ia menegaskan, Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru akan terus berupaya hadir dalam kegiatan sosial maupun pendidikan sesuai kemampuan organisasi.
Tak Hanya Sosial, Pendidikan Juga Menjadi Perhatian
Kiprah Srikandi DPC GRIB Jaya Pekanbaru juga tidak berhenti pada persoalan sosial dan kesehatan.
Srikandi DPC GRIB Jaya Pekanbaru sebelumnya turut memberikan perhatian terhadap persoalan pendidikan, termasuk memperjuangkan seorang siswi dari keluarga kurang mampu, Ayla Azzahra Balqis, agar dapat melanjutkan pendidikan di SMK Negeri sesuai harapannya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap masyarakat tidak hanya berbicara mengenai bantuan sesaat, tetapi juga menyentuh persoalan masa depan generasi muda.
Ketua DPC GRIB Jaya Pekanbaru, S. Hondro, mengapresiasi kiprah Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru yang dinilainya telah menunjukkan kepedulian nyata meskipun organisasi tersebut masih relatif baru hadir di Pekanbaru.
“Meski DPC GRIB Jaya Pekanbaru baru hadir di Kota Pekanbaru, kami ingin hadir bukan hanya sebagai organisasi, tetapi juga untuk berbagi rasa, berbagi kepedulian dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, peran perempuan melalui Srikandi GRIB Jaya menjadi bagian penting dalam membangun kepedulian sosial.
“Saya mengapresiasi langkah Ketua Srikandi DPC GRIB Jaya Pekanbaru dan seluruh jajarannya. Kepedulian seperti ini harus terus kita hidupkan, karena organisasi hadir untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Perempuan Bergerak, Indonesia Kuat
Memasuki usia kemerdekaan ke-81, semangat Srikandi GRIB Jaya Pekanbaru menjadi gambaran bahwa perjuangan mengisi kemerdekaan dapat dimulai dari lingkungan paling dekat: melihat persoalan, mendengarkan keluhan dan kemudian bergerak memberikan solusi.
Dari kisah Rheisa, kepedulian menjadi harapan. Dari persoalan pendidikan, perjuangan menjadi jalan bagi masa depan anak-anak.
Perempuan tidak harus menunggu untuk diberi ruang. Perempuan dapat menciptakan ruang untuk berbuat, bergerak dan memberikan manfaat.
Semangat itulah yang ingin terus dibawa Srikandi DPC GRIB Jaya Pekanbaru dalam mengisi kemerdekaan.
“Perempuan Bergerak, Perempuan Berkarya, Perempuan Peduli. Bersama mengisi kemerdekaan dengan tindakan nyata untuk masyarakat.”
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka! Merdeka! Merdeka! (Hendra)
