Indeks

Bukan Sekadar Seremoni, Pelepasan Guru SMAN 8 Pekanbaru Dipenuhi Tangis dan Permohonan Maaf Mendalam

Liputanperistiwa.com Pekanbaru – Suasana tak biasa terjadi di lingkungan SMAN 8 Pekanbaru, Rabu (15/4/2026). Tangis haru pecah di Masjid Ar-Rahman saat dua guru dilepas untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Bukan sekadar seremoni, momen ini berubah menjadi ruang penuh keikhlasan di mana kata maaf terucap, doa dipanjatkan, dan harapan dilangitkan bersama.

Plt Kepala SMAN 8 Pekanbaru, Sulismayati, S.Si., M.Si dalam sambutannya menyampaikan harapan besar agar para jemaah diberikan kelancaran selama menjalankan ibadah. Ia menekankan bahwa perjalanan haji bukan hanya fisik, tetapi juga perjalanan hati yang penuh ujian kesabaran.

Namun, momen paling menggetarkan hadir saat Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Reni Erita, S.Hum., M.M melalui sang suami AKBP Usril, SH, MH menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada seluruh keluarga besar sekolah.

Dengan suara yang tertahan, ia menyadari sebagai manusia biasa tak luput dari salah dan khilaf.

“Jika selama ini ada kata atau sikap yang kurang berkenan, kami mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya,” ucapnya, membuat suasana semakin haru.

Hal serupa juga disampaikan oleh Aslitawati, M.Pd. Dengan penuh kerendahan hati, ia meminta keikhlasan seluruh hadirin untuk memaafkan segala kekhilafan yang mungkin pernah terjadi.

Tak hanya itu, ia juga meninggalkan pesan kuat bagi generasi muda bahwa ibadah haji bukan soal siapa yang mampu, tetapi siapa yang dimampukan oleh Allah SWT.

“Banyak yang mampu tapi belum dipanggil, dan ada yang sederhana justru dimudahkan jalannya. Kuncinya adalah niat,” tuturnya.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah oleh Ustad Doni Putra, Lc yang mengingatkan bahwa ujian terbesar selama berhaji adalah kesabaran—mulai dari menghadapi jutaan manusia, perbedaan budaya, hingga kondisi yang jauh dari kenyamanan.

Prosesi tepung tawar menjadi penutup yang sarat makna, mengiringi doa agar para jemaah diberi keselamatan, kesehatan, serta kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur.

Pelepasan ini bukan hanya tentang keberangkatan menuju Tanah Suci, tetapi juga tentang membersihkan hati, memperbaiki diri, dan meninggalkan jejak kebaikan sebelum berangkat.

Di balik air mata yang jatuh, tersimpan harapan besar: pulang bukan hanya sebagai haji, tetapi sebagai pribadi yang lebih baik. (Hendra)